SURAT SULTAN ABUL FATH ABDUL FATAH BANTEN KEPADA SUSUHUNAN AMANGKURAT SENAPATI INGALAGA MATARAM 22 APRIL 1678 MASEHI
Terjemahan dalam Bahasa Belanda
Translaat van den brief, dien de Banthamse Sulthan
Agon, geschreven heeft aan den Sousouhounangh
Amancourat Sinnepatty Ingalaga, ontfangen op
Japara den 22 April per de Sourouans, die de
Sousouhounan Amancourat nu eenige maanden ge-
leden naar Bantam afgesonden hadde.
Dit is een brief van uw ouder broeder tot Bantam geschreven,
aan u myn jonger broeder, Sousouhounangh Aman Courat Sinnepatty
Ingalaga; wyders hebt gy, jonger broeder tot my als UE. gesanten
overgesonden, Tommagon Maleya en Tommagon Tsiacranagara met
een brief, deweleke in gesontheyt tot my overgecomen syn en heb
iek ontlangen het stalen roer, dat myn jonger broeder my gesonden
heeft. Alle de woorden van myn jonger Broeder, in den brief vervat,
alsmeede de mondelinge beveelen van Tommagon Malaya en Tom-
magon Tsiacranagara hebbe iek met God, wel begreepen. Wat nu
belanght dat myn jonger broeder my versoeekt, dat iek yemandt wilde
afsenden om aanwysinge te doen van liet Sirrebonse geschut, doch
dit is onnoodigh, want soo myn jonger broeder geneegen is, om my
dezelve wederom te geeven is aldaar onder myn jonger broeder volk
en onderdanen genoegh, die dezelve wel kennen; die geene die gy
bemint is ons door Tommagon Siacranagara bekent gemaakt, alsoock
wat myn jonger broeder die aangaande versoeeken liet, deselve is
wel door den Sulthan Samsoedin van den pangeran Chirrebon afgeset;
maar eenlyk omdat hy hoorde, dat sy niet naar behooren van Pan-
geran Singesary gesclieyden was; oock versoeckt uw ouder broeder
dat ghy myn jonger broeder, hem naar deesen niet meer gelieft voor
te houden versoeeken, die met de wet en het reght der Mahometisten
niet overeen en komt; ten anderen versoeckt uw ouder broeder meede,
dat ghy niet en wilt doen, hetgeene strydigh is en niet overeenkomt
met het voors. gelooff of anders kan ik u niet voor myn oprechten
broeder aanneemen opdat God de Heere u in alles bystaan magh;
noch versoeckt uw ouder broeder, dat ghy niet afwyken wilt van de
handeling en wandeling uwer voorvaderen, den Sulthan van Damack,
item myn grootvader Pangeran Sourabaija, die naar onse weth en
reghten geleeft hebben, dat ik u, myn jonger broeder vermaan hiertoe
is, omdat uw leeven en geloof als ook uw staat nu tusschen beyde
schynt'te staan (by de Javanen genoemt offte uytgedruckt Capalangh,
dat is geen reght Mahometaan, geen reght Christen, geen Conincq
noch ook geen gemeen man en soo voorts in alle zyn doen en laten)
dat volgens myn gevoelen in deese werelt geen eere baaren kan,
ook niet hier namaals tot vreughde gedyen ende opdat uw doen en
ons doen hier magh geseegent werden en ook hier namaals met
gerustheyt onses gemoets voor Godt verschynen magh, zoo wil Godt
u gebeden en u versoght hebben, dat gy, myn jonger broeder oprigt
den standaart (dat is het geloof van den propheet Mahomet) opdat
dat geloove magh toeneemen ende krachtig syn cn blyven, nevens
dit soo wil ik u myn jonger broeder ook vermanen, dat gy gedenkt
dat Godt u in de weerelt het leeven verleent en u heeft laten voort-
comen; de sterekte komt van dien eygen Godt, oock de zwackheyt,
als het Godt nu gelieft ons stercte te verleenen, zoo zullen wy sterk
worden en als het Hem gelieft ons te verswakken, soo worden wy
oock swack, daarom vermaan ik u, myn jonger broeder, nochmaels
ernstig, dat gy doch wilt gedenken, dat geen dingen kracht noch
sterkte hebben, maar dat haare kracht van Godt kome, die alleen
de macht heeft. Soo nu myn jonger broeder naar myn vermaningh
luysteren ende deselve achtervolgen wil, soo sal Godtu ook zeegenen
en bystaan en uw troon bestendigh maken, daar ick Hem oock om
bidde, daar gy nu van uw tliroon versteecken zyt, en zoo de menschen
zeggen, zoo schynt myn jonger broeder, met zijn volck onderdanen
van de Ed. Compagnie geworden te zyn, als blyvende altyttot Japara
onder haar, wyders verzoekt uw ouder broeder, dat zoo gy, myn
jonger broeder met my, uw ouder broeder in opreghte broederschap
wilt leven, dat ghy niet van uw welvaart en geloove wilt afwyken,
al moest gy oock de eere van deese werelt missen, want alle de
kinderen Adams leeven niet lange in deese werelt en bennen allen
den dood onderworpen, ja, al dat leeft, self ook gy myn jonger
broeder, die thans in de werelt zyt, zult al meede naar de eeuwig-
heyt moeten gaan; dit zyn dan alle myne vermaningen, die ghy
myn jonger broeder, by dach en by nacht niet naarlaten moet om
te overdenken, opdat Godt u, myn jonger broeder, bystaan en in
uw ryk herstellen mach en opdat gy, binnen de Mattaram het geloove
weder oprechten meught. Al hetgeene Ick te seggen hebbe, staat
in deesen brief.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia (Edisi Diplomatik)
Terjemahan surat, dari Sultan Agung Banten, surat ditujukan kepada Susuhunan Amangkurat Senapati Ingalaga, yang diterima di Jepara pada tanggal 22 April melalui para Utusan, yang beberapa bulan sebelumnya telah dikirimkan Susuhunan Amangkurat ke Banten.
Ini adalah surat dari kakakmu yang ditulis di Banten, kepada engkau, adikku, Susuhunan Amangkurat Senapati Ingalaga; selanjutnya, engkau, wahai adikku, telah mengirimkan kepadaku para utusanmu yang Mulia, yaitu Tumenggung Malaya dan Tumenggung Cakranagara beserta sepucuk surat, yang telah sampai kepadaku dalam keadaan baik dan aku telah menerima senjata api laras panjang yang telah adikku kirimkan kepadaku. Segala perkataan dari adikku yang termuat dalam surat tersebut, sebagaimana juga dengan perkataan lisan melalui Tumenggung Malaya dan Tumenggung Cakranagara insya-Allah, telah aku pahami dengan baik. Adapun mengenai hal bahwa adikku memohon kepadaku, agar aku mengirimkan seseorang untuk memberikan petunjuk tentang meriam Cirebon, hal itu tidaklah diperlukan, sebab apabila adikku berkenan, mengembalikannya kepadaku maka di sana di antara rakyat dan para bawahan adikku sebenarnya terdapat cukup banyak orang yang mengenalnya dengan baik, orang yang engkau maksud itu telah diberitahukan kepada kami oleh Tumenggung Cakranagara, demikian juga apa yang adikku minta berkenaan dengannya, orang tersebut memang telah diberhentikan oleh Sultan Syamsyudin dari pihak Pangeran Cirebon, melainkan semata-mata karena ia mendengar, bahwa orang itu tidak diberhentikan sebagaimana mestinya oleh Pangeran Singasari, selanjutnya kakakmu memohon, agar engkau adikku tidak lagi berkenan menyampaikan kepadanya permintaan-permintaan seperti itu, yang tidak sesuai dengan hukum dan syariat kaum Muslimin; kedua kakakmu juga memohon, agar engkau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dan tidak sejalan dengan keyakinan tersebut apabila tidak maka aku tidak dapat mengakui engkau sebagai saudara yang sejati, semoga Allah menolongmu dalam segala hal; kakakmu memohon, agar engkau tidak menyimpang dari perilaku dan jalan hidup nenek-moyangmu, Sultan Demak, serta kakekku Pangeran Surabaya, yang telah hidup sesuai dengan hukum dan syariat kita, adapun aku kepada engkau, wahai adikku menasehati demikian, karena kehidupan dalam keyakinanmu dan keadaanmu yang sekarang tampak berada di antara dua hal (yang oleh orang Jawa disebut atau diungkapkan dengan Kapalang, yaitu bukan seorang Muslim yang sejati, bukan seorang Kristen yang sejati, bukan sepenuhnya seorang Raja dan juga bukan seorang rakyat biasa demikian juga dalam segala perbuatan dan tingkah lakumu) yang menurut pendapatku tidak dapat membawa kehormatan di dunia ini, dan juga tidak akan menghasilkan kebahagiaan di akhirat dan agar perbuatanmu dan perbuatan kita di dunia dapat diberkahi serta kelak dapat menghadap Allah dengan hati yang tentram, maka aku memohon dan mengharapkan kepadamu wahai adikku, agar engkau menegakkan panji (yaitu agama Nabi Muhammad SAW) supaya agama itu dapat berkembang menjadi kuat dan tetap kokoh, selain itu, aku juga menasihatimu adikku, agar engkau mengingat bahwa Allah lah yang telah menganugrahkan kehidupan kepadamu di dunia ini dan yang telah menjadikanmu ada; kekuatan itu berasal dari Allah yang sama, demikian juga dengan kelemahan, apabila Allah berkehendak memberi kita kekuatan, maka kita menjadi kuat dan apabila Dia berkehendak melemahkan kita, maka kita pun akan menjadi lemah, oleh karena itu aku menasihatimu, wahai adikku, sekali lagi dengan sungguh-sungguh, agar engkau benar-benar mengingat, bahwa tidak ada sesuatu pun yang memiliki kekuatan atau daya, melainkan bahwa kekuatan itu berasal dari Allah, hanya Dia saja lah yang memiliki kuasa. Maka apabila adikku mau mendengarkan nasihatku dan mengikutinya, niscaya Allah juga akan memberkatimu menolongmu dan meneguhkan takhtamu, hal yang juga aku mohonkan kepada-Nya, karena engkau tampak tersingkir dari tahtamu, dan sebagaimana yang dikatakan orang, tampaknya adikku, bersama rakyatnya telah menjadi bawahan Tuan Kompeni, dengan tetap di Japara di bawah kekuasaan mereka, selanjutnya kakakmu memohon, bahwa apabila engkau, adikku hendak hidup bersama aku, kakakmu dalam persaudaraan yang tulus, maka janganlah engkau menyimpang dari kesejahteraan dan keyakinanmu, sekalipun engkau harus kehilangan kehormatan dunia ini, sebab semua anak Adam tidak hidup lama di dunia ini dan semuanya tunduk pada kematian, ya, bahkan semua yang hidup, bahkan engkau adikku, yang kini berada di dunia ini, pada akhirnya harus menuju pada keabadian; inilah seluruh nasihatku, kepadamu adikku, yang tidak boleh engkau lalaikan siang dan malam, agar Allah menolongmu adikku, memulihkan engkau dalam kerajaanmu dan agar engkau, dapat menegakkan kembali agama di Mataram. Segala sesuatu yang hendak aku sampaikan, telah termuat dalam surat ini.
Terjemahan dalam Bahasa Indonesia (Edisi Standar/Kritis)
Terjemahan surat, dari Sultan Agung Banten, surat ditujukan kepada Susuhunan Amangkurat Senapati Ingalaga, yang diterima di Jepara pada tanggal 22 April melalui para Utusan, yang beberapa bulan sebelumnya telah dikirimkan Susuhunan Amangkurat ke Banten.
Ini adalah surat dari kakakmu yang ditulis di Banten, kepada engkau, adikku, Susuhunan Amangkurat Senapati Ingalaga; selanjutnya, engkau, wahai adikku, telah mengirimkan kepadaku para utusanmu yang Mulia, yaitu Tumenggung Malaya dan Tumenggung Cakranagara beserta sepucuk surat, yang telah sampai kepadaku dalam keadaan baik dan aku telah menerima senjata api laras panjang yang telah adikku kirimkan kepadaku.
Segala perkataan dari adikku yang termuat dalam surat tersebut, sebagaimana juga dengan perkataan lisan yang disampaikan melalui Tumenggung Malaya dan Tumenggung Cakranagara insya-Allah, telah aku pahami dengan baik.
Adapun mengenai hal bahwa adikku memohon kepadaku, agar aku mengirimkan seseorang untuk memberikan petunjuk tentang meriam Cirebon, hal itu tidaklah diperlukan. Sebab apabila adikku berkenan mengembalikannya kepadaku, maka di sana di antara rakyat dan para bawahan adikku sebenarnya terdapat cukup banyak orang yang mengenalnya dengan baik. Adapun orang yang engkau maksud itu telah diberitahukan kepada kami oleh Tumenggung Cakranagara. Demikian juga apa yang adikku minta berkenaan dengannya, maka orang tersebut memang telah diberhentikan oleh Sultan Syamsyudin dari pihak Pangeran Cirebon. Melainkan semata-mata karena ia mendengar, bahwa orang itu tidak diberhentikan sebagaimana mestinya oleh Pangeran Singasari. Selanjutnya kakakmu memohon, agar engkau adikku tidak lagi berkenan menyampaikan kepadanya permintaan-permintaan seperti itu, yang tidak sesuai dengan hukum dan syariat kaum Muslimin. Kedua kakakmu juga memohon, agar engkau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dan tidak sejalan dengan keyakinan tersebut. Apabila tidak maka aku tidak dapat mengakui engkau sebagai saudara yang sejati, semoga Allah menolongmu dalam segala hal. Kakakmu memohon, agar engkau tidak menyimpang dari perilaku dan jalan hidup nenek-moyangmu, Sultan Demak, serta kakekku Pangeran Surabaya, yang telah hidup sesuai dengan hukum dan syariat kita. Adapun aku kepada engkau, wahai adikku menasehati demikian, karena kehidupan dalam keyakinanmu dan keadaanmu yang sekarang tampak berada di antara dua hal (yang oleh orang Jawa disebut atau diungkapkan dengan Kapalang, yaitu bukan seorang Muslim yang sejati, bukan seorang Kristen yang sejati, bukan sepenuhnya seorang Raja dan juga bukan seorang rakyat biasa demikian juga dalam segala perbuatan dan tingkah lakumu) yang menurut pendapatku tidak dapat membawa kehormatan di dunia ini, dan juga tidak akan menghasilkan kebahagiaan di akhirat. Dan agar perbuatanmu dan perbuatan kita di dunia dapat diberkahi serta kelak dapat menghadap Allah dengan hati yang tentram, maka aku memohon dan mengharapkan kepadamu wahai adikku, agar engkau menegakkan panji (yaitu agama Nabi Muhammad SAW). Supaya agama itu dapat berkembang menjadi kuat dan tetap kokoh. Selain itu, aku juga menasihatimu adikku, agar engkau mengingat bahwa Allah lah yang telah menganugrahkan kehidupan kepadamu di dunia ini dan yang telah menjadikanmu ada. Kekuatan itu berasal dari Allah yang sama, demikian juga dengan kelemahan. Apabila Allah berkehendak memberi kita kekuatan, maka kita menjadi kuat dan apabila Dia berkehendak melemahkan kita, maka kita pun akan menjadi lemah. Oleh karena itu aku menasihatimu, wahai adikku, sekali lagi dengan sungguh-sungguh, agar engkau benar-benar mengingat, bahwa tidak ada sesuatu pun yang memiliki kekuatan atau daya, melainkan bahwa kekuatan itu berasal dari Allah. Hanya Dia saja lah yang memiliki kuasa.
Maka apabila adikku mau mendengarkan nasihatku dan mengikutinya, niscaya Allah juga akan memberkatimu, menolongmu dan meneguhkan takhtamu. Hal yang juga aku mohonkan kepada-Nya, karena engkau tampak tersingkir dari tahtamu. Dan sebagaimana yang dikatakan orang, tampaknya adikku, bersama rakyatnya telah menjadi bawahan Tuan Kompeni, dengan tetap di Japara di bawah kekuasaan mereka. Selanjutnya kakakmu memohon, bahwa apabila engkau, adikku hendak hidup bersama aku, kakakmu dalam persaudaraan yang tulus, maka janganlah engkau menyimpang dari kesejahteraan dan keyakinanmu, sekalipun engkau harus kehilangan kehormatan dunia ini. Sebab semua anak Adam tidak hidup lama di dunia ini dan semuanya tunduk pada kematian, ya, bahkan semua yang hidup, bahkan engkau adikku, yang kini berada di dunia ini, pada akhirnya harus menuju pada keabadian. Inilah seluruh nasihatku, kepadamu adikku, yang tidak boleh engkau lalaikan siang dan malam, agar Allah menolongmu adikku, memulihkan engkau dalam kerajaanmu dan agar engkau, dapat menegakkan kembali agama di Mataram. Segala sesuatu yang hendak aku sampaikan, telah termuat dalam surat ini.
Sumber: “XXXIX Translaetbrief van Abou’l Nazar, Sulthan (2e) van Bantam aan den Sousouhounan” dalam “De Opkomst van Het Netherlandsch Gezag in Oost Indie: Verzameling van Onuitgegeven Stukken Uit Het Oud-Koloniaal Archief” (Zevente Deel) yang disunting oleh JHR MR JKJ De Jonge (Adjunct-Rijks-Archivaris) dan diterbitkan oleh Martinus Nijhoff di ‘s Gravenhage dan Frederik Muller di Amsterdam tahun MDCCCLXIII (1863) pada halaman 209-211. Surat salinan dalam bahasa Belanda yang menjadi rujukan dalam buku tersebut, masih tersimpan dengan baik di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Disalin ulang dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana/Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS) pada Jum’at, 30 Januari 2025 di Bandung.
Comments
Post a Comment